Digital garden m.ikhsan merupakan bagian dari eksperimen Muhammad Ikhsan di Smartech Studios.
Personal Business Model Canvas — Menerjemahkan BMC untuk Personal
Saya sedang mempelajari penggunaan Business Model Canvas (BMC) untuk membangun bisnis. Sembari berusaha memahaminya, terpintas sebuah pemikiran:
"Setiap elemen di dalam BMC ini maksudnya apa?
Apakah bisa dibawa keluar dari ranah bisnis untuk keperluan hidup sehari-hari?
Misalnya, untuk meraih suatu goal atau cita-cita yang diinginkan."
Dari searching singkat, saya menemukan framework eksisting yang mengadopsi BMC ke kehidupan sehari-hari bernama "Business Model You" (BMY). Namun sekilas, ia terkesan menggunakan pendekatan yang agak berbeda dari esensi BMC. Ada satu hal yang menurut saya kurang cocok, yaitu pada bagian "Who You Help" dan "What You Get".
Di BMC, blok "Who You Help" adalah Customer Segments; dan blok "What You Get" adalah "Revenue Streams". Jika dipadankan dalam BMY, berarti "Revenue Streams" menjadi goal atau harapan yang ingin dicapai sebagai imbalan dari "Who You Help".
Padahal, dalam kehidupan nyata, banyak hal yang tetap harus dilakukan meskipun tidak ada imbalan langsung yang bersifat transaksional untuk kita. Tidak selalu ada "What You Get" yang instan. Bahkan tak jarang, pengharapan terhadap "What You Get" secara sepihak adalah hal yang keliru jika konteks awalnya adalah membantu (helping) atau mengabdi.
Walhasil, saya mencoba membuat terjemahan BMC untuk digunakan di kehidupan sehari-hari dengan cara saya sendiri, yang lebih setia pada arsitektur operasional aslinya.
Framework Personal: Aktor, Nilai, dan Hasil Balik
Semua kanvas diinisiasi atas suatu kebutuhan seseorang atau sekelompok orang. Orang-orang ini kita sebut sebagai Source Actor.
- Source Actor ingin meraih suatu tujuan/cita-cita yang kita sebut sebagai Returns.
- Untuk meraihnya, ia harus menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi pihak luar sebagai Value.
- Dalam menghasilkan Value yang diperlukan, ada Cost yang harus dikeluarkan atau diikhlaskan.
Sehingga, kita bisa menarik garis logika:
Source Actor mengeluarkan Cost untuk menghasilkan Value yang dapat memberikan Returns.
Cost ini diperlukan untuk menghasilkan Value. Secara lebih detail, Cost merupakan penggunaan Resource yang dimiliki untuk melakukan suatu Action, yang mungkin memerlukan keterlibatan Helper/Enabler untuk dapat menghasilkan Value.
Value yang telah dihasilkan oleh Source Actor kemudian akan diterima oleh Value Target Actor. Value ini disalurkan melalui sebuah Transmission yang dilakukan pada suatu Medium. Hasil akhir dari diterimanya nilai tersebut oleh target akan melahirkan dampak eksternal (Impact) sekaligus memberikan hasil balik (Returns) yang sah bagi Source Actor.
Formula Sederhana
Bila disederhanakan, konsep pergerakan di atas dapat disajikan dalam persamaan konseptual berikut:
- Action + Cost → Value
- Value + Transmission → Returns
Di sini, Source Actor-lah yang melakukan aktivitas untuk memproduksi nilai, dan melalui metode transaksi yang tepat, nilai tersebut diterima oleh Value Target Actor hingga menghasilkan buah keberhasilan (Returns).
Pemetaan BMC ke Framework Personal
Bila disandingkan dengan elemen-elemen asli pada Business Model Canvas dan BMY, berikut adalah hasil terjemahan dari framework ini:
| Elemen BMC Asli | Elemen BMY | Adaptasi Framework Personal |
|---|---|---|
| Key Resources | Who you are & what you have | Actor Resources |
| Key Activities | What you do | Actor Actions |
| Key Partners | Who helps you | Actor Helper/Enabler |
| Cost Structure | What you give (stress, time) | Cost |
| Value Propositions | How you help | Value Propositions |
| Channels | How they know you & how you deliver | Value Mediums |
| Customer Relationships | How you interact | Value Transmissions |
| Customer Segments | Who you help | Value Target Actor |
| Revenue Streams | What you get (satisfaction, money) | Returns |
Catatan untuk bagian Value Proposition.
Di awal tadi, saya hanya menyebutnya sebagai Value. Itu memang sengaja.
Di canvas, saya akan gunakan Value Proposition.
Karena Value Proposition di sini harus divalidasi sebagai sesuatu yang impactful bagi Value Target Actor. Sehingga, secara tidak langsung, Value Proposition harus menggambarkan impact apa yang akan diterima oleh Value Target Actor.
Bagian Returns di bawah adalah khusus untuk manfaat yang diterima oleh si Source Actor.
Adapun manfaat yang akan diterima oleh Value Target Actor, tergambar di Value Propositions.
Nah, pertanyaannya, apakah Value Target Actor memang betul-betul mengharapkan Value Proposition yang disiapkan?
Itulah pertanyaan yang harus divalidasi kecocokannya. Bila belum cocok, maka Value Proposition harus disesuaikan. Kalau tidak cocok, Returns tidak akan datang.
Ketika Value Proposition memang betul-betul cocok dan impactful bagi Value Target Actor, ketika itu, cost yang dikeluarkan menjadi efektif dan efisien, dan Value Proposition sudah pantas disebut menjadi "Value".